Sample Feature Post 1 Title
All of this content is sample tyr to replace these content every slider to your content descriptions. Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace it.
Sample Feature Post 2 Title
All of this content is sample tyr to replace these content every slider to your content descriptions. Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace it.
Sample Feature Post 3 Title
All of this content is sample tyr to replace these content every slider to your content descriptions. Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace it.
Jumat, 22 November 2013
Sejarah pendidikan bagi Tunagrahita (umum)
1.
Sejarah
Umum Pendidikan Anak Tunagrahita
Sejarah
otopedagogik (pendidikan) anak tunagrahita merupakan sebagian dari sejarah
pendidikan anak-anak berkelainan pada umumnya, baik yang berkalainan jasmani
maupun rohani. Sepanjang data historis yang ada perkembangan pendidikan anak
tunagrahita sejalan dengan pandangan masyarakat dari zaman ke zaman terhadap
mereka. Masyarakat menganggap mereka sebagai manusia yang tidak mempunyai hak
yang sama seperti orang-orang yang normal, merka belum mendapat perlakuan dan
pendidikan yang layak sebagaimana mestinya. Seperti halnya pendidikan anak
berkelainan pada umumnya, pendidikan anak tunagrahita baru muncul apabila telah
ada pandangan dan perhatian masyarakat terhadap mereka khususnya terdapat sifat
kodrati, kebutuhan-kebutuhan, dan hak-hak mereka. Setelah disadari barulah
orang memelihara dan mendidiknya. Dapatlah dikatakan bahwa perkembangan terhadap anak tunagrahita
adalah sebagian dari perkembangan peradapan pada umumnya.
Di Eropa,
perkembangan pendidikan anak berkelainan termasuk anak tunagrahita dalam garis
besarnya telah menjalani tiga periode (Frampton dan Gall, 1955:4)
a. Periode zaman primitive dan
purbakala. Zaman ini berlangsung sekitar tahun 1550 sebelum
masehi sampai kira-kira tahun 476 SM. Perlakuan merka terhadap anak tunagrahita
dapat diketahui dengan menganalisis filsafat sosial hidup pad zaman itu.
b. Periode zaman abad pertengahan.
Zaman ini berlangsung sekitar tahun 500 -1500 M. Pada zaman ini perhatian yang
sifatnya filantrolis (kasih sayang) terhadap yang tunanetra dan tunarungu telah
ada, demikian pula terhadap tunagrahita.
c. Periode zaman modern.
Zaman ini berlangsung sejak tahun 1500 M
sampai sekarang. Zaman inilah merupakan zaman yang sesungguhnya bagi pendidikan
anak yang berkelainan termasuk anak tunagrahita. Zaman ini didukung oleh adanya
penelitian-penelitian yang sifatnya ilmiah.
Prof.Drs.H.Moh.Amin,Dipl.H.P(1995).Ortopedagogik Anak Tunagrahita.Bandung
Minggu, 17 November 2013
Assesmen Tunagrahita
ASESMEN
Tindakan atau kegiatan asesmen merupakan tindak lanjut dari
kegiatan deteksi yang telah dilaksanakan. Perlunya asesmen dalam pendidikan anak tunagrahita didasari oleh beberapa
pertimbangan sebagai berikut:
Hasil
Deteksi
Pada kegiatan
deteksi hanya semata-mata berusaha menemukan atau menelusuri keadaan
perkembangan anak sehingga akhirnya dapat diduga bahwa anak tersebut
tunagrahita. Dengan demikian, dalam kegiatan deteksi tidak dibicarakan mengenai
tindak lanjut atau bagaimna pelaksanaan pengajarannya.
Keadaan
Anak Tunagrahita
Keterbatasan
kecerdasan sedimikian rupa yang dimiliki anak tunagrahita, menyebabkan mereka
memerlukan pelayanan dan program pendidikan yang sesuai dengan kemampuannya.
Kemampuan anak tunagrahita dapat diketahui dengan memberikan tugas/kegiatan
yang telah ditemukan melalui kegiatan deteksi.
Perbedaan
Individual
Anak
tunagrahita memiliki perbedaan-perbedaan individu, baik yang berupa perbedaan inter
individual maupun perbedaan intra individual.
·
Inter
Individual, yaitu perbedaan kemampuan anak tunagrahita dengan
temannya walaupun mereka berada pada tingkat ketunagrahitaan yang sama. Contoh:
kepada dua orang anak tunagrahita ringan diberikan pelajaran berhitung dengan
materi yang sama, ternya kedua anak tunagrahita tersebut tidak sama
kecepatannya dalam menyelesaikan tugas, yang satu lebih cepat dari yang lain,
sehingga ada perbedaan materi berhitung bagi masing-masing anak tersebut.
·
Intra
Individual, yaitu perbedaan kemampuan pada diri anak
tunagrahita itu sendiri. Dia memiliki kemampuan dalam satu bidang tertentu,
akan tetapi tidak mampu dalam bidang yang lainnya. Contoh: seorang anak
tunagrahita memiliki kemampuan yang baik dalam membaca, akan tetapi dalam
pelajaran berhitung ia mengalami kesulitan yang tergolong berat.
1.
Pengertian
Asesmen
Istilah asesmen berasal
dari Bahasa Inggris yaitu assement yang
berarti penilaian suatu keadaan. Jadi asesmen anak tunagrahita adalah penilaian
kemampuan anak tunagrahita. Penilaian yang dimaksud dalam hal ini berbeda
dengan evaluasi. Jika evaluasi dilaksanakan setelah anak itu belajar dan
bertujuan untuk menilai keberhasilan anak dalam pelajaran; maka asesmen tidak
demikian. Dalam asesmen penilaian dilakukan pada saat anak belum di berikan
pelajaran setelah dari hasil deteksi ditemukan bahwa ia diperkirakan
tunagrahita, dan/atau sementara belajar untuk menentukan program selanjutnya.
Asesmen bukan pula tes, akan tetapi tes merupakan bagian dari asesmen. Sejalan
dengan itu, Mulliken & Buckley (1983) mendefinisikan asesmen sebgai berikut
:
Assessment refers to the gathering
of relevant information to help an individual make decisions. Assessment in
educational setting is a multipaceted process that involves for more than the
administration of a test.
Dari
uraian diatas jelaslah bahwa asesmen merupakan usaha untuk menghimpun informasi
yang relevan guna memahami atau menentukan keadaan individu. Dalam bidang
pendidikan asesmen merupakan berbagai proses yang rumit untuk lebih melengkapi
hasil tes.
2.
Tujuan
Asesmen
Tujuan
dilakukannya asesmen berkaitan erat dengan waktu mengadakannya. Berikut ini
akan diuraikan mengenai waktu pelasanaan asesmen.
a.
Asesmen
yang dilakukan setelah deteksi
Kegiatan
asesmen ini dilaksanakan setelah anak tunagrahita ditemukan, dengan demikian
tujuan asesmen ini adalah:
1)
Untuk menyaring kemamuan anak
tunagrahita
Hal
ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan anak dalam setiap aspek. Misalnya,
bagaimana kemampuan bahasanya, kemampuan kognitifnya, kemampuan gerak, dan
kemampuan penyesuain dirinya.
2)
Untuk keperluan pengklasifikasian,
penempatan, dan penentuan program pendidikan anak tunagrahita. Setelah diadakan
penyaringan maka dapat diperkirakan apakah anak tersebut tersebut termasuk ke
dalam anak tunagrahita ringan, sedang, atau berat. Pengambilan kesimpulan dan penetapannya
sudah barang tetntu harus didukung oleh data yang jelas. Pengklasifikasian ini
erat kaitannya dengan usaha penempatan. Hal ini penting sebab anak tunagrahita
yang tergolong ringan bila di tempatkan bersama-sama dengan anak tunagrahita
yang tergolong berat sudah tentu akan menyulitkan pengelola pendidikannnya,
sebab perbedaan kemampuan diantara mereka amat berbeda
3)
Untuk menentukan arah dan kebutuhan
pendididkan anak tunagrahita. Arah/tujuan pendidikan anak tunagrahita pada
dasarnya sama dengan tujuan pendidikan pada umumnya. Hanya saja, mengingat
kemampuan anak tunagrahita yang terbatas, maka perlu dirumuskan tujuan khusus
yang disesuaikan dengan berat-ringan ketunagrahitaannya. Dengan demikian,
keluasan dan kedalaman tujuan pendidikan bagi mereka sangat erat kaitannya
dengan dengan tingkat ketunagrahitaan. Oleh karena tujuan pendidikan bagi anak
tunagrahita ringan akan berbeda dengan tujuan pendidikan anak tunagrahita
sedang maupun tunagrahita berat, maka
perumusan tujuan untuk masing-masing tingkat ketunagrahitaan sangat diperlukan
karena merupakan dasar pandangan atau acuan untuk menentukan arah ataupun
program pendidikannya.
4)
Untuk mengembangkan program pendidikan
yang individualisasikan atau biasa disebut juga IEP (individualized Educatioanl Program). Dengan data yang
diperoleh sebagai hasil asesmen dapatlah diketahui kemampuan dan ketakmampuan
anak tunagrahita. Kemampuan-kemampuan itu menjadi dasar untuk
mengembangkankemampuan berikutnya. Akibat dari pengembangan program yang
didasarkan pada hasil asesmen, maka muncullah rumusan program yang disesuaikan
dengan kemampuan setiap anak.
5)
Untuk menentukan strategi, lingkungan
belajar, dan evaluasi pengajaran. Sama halnya dengan IEP bahwa dengan melihat
hasil asesmen dapat ditentukan model strategi, lingkungan belajar, evaluasi,
maupun tindak lanjut pembelajaran.
Contoh
a)
Strategi Pengajaran
Strategi pengajaran klasikal kurang
sesuai bila diterapkan pada kelas anak tunagrahita terutama jika mengajarkan
bidang-bidang yang membutuhkan konsentrasi atau pembahasan tentang
konsep-konsep.
Sebaliknya strategi tersebut sesuai
bila digunakan dalam mengajarkan hal-hal yang sifatny rekreatif misalnya
pelajaran seni suara.
b)
Pengaturan Lingkungan Belajar
Pengaturan lingkungan belajar baik
berupa lingkungan fisik maupun lingkungan suasana harus disesuaikan dengan
keadaan anak tunagrahita. Lingkunag fisik meliputi: pengaturan meja dan kursi,
lemari, papan tulis, maupun gambar-gambar. Biasanya pengaturan hal-hal tersebut
untuk kelas anak kecil yang tingkat ketunagrahitaannya ringan berbeda dengan
untuk kelas anak yang tingkat ketunagrahitaannya sedang dan berat. Lingkungan
suasana meliputi: peraturan-peraturan, suaar guru dalam mengajar, situasi
lingkungan dan sebagainya.
c)
Evaluasi
Baik bentuk, waktu pelaksanaan,
maupun pencatatan dan pelaporan hasil evaluasi sudang barang tentu harus
dirumuskan sesuai dengan tingkat ketunagrahitaan anak. Pada anak tunagrahita
ringan umumnya dapat dihadapkan pada bentuk soal tertulis dan lisan, akan
tetapi anak tunagrahita sedang atau berat sebaiknya diberikan dalam bentuk
perbuatan.
b. Asesmen pada saat dan setelah diberi pelajaran
Asesmen yang dilaksanakan pada saat
dan setelah anak tunagrahita diberi pelajaran diperlukan untuk maksud
merencanakan program selanjutnya.
Adapun tujuan asesmen adalah:
1)
Agar guru mendapat informasi tentang
keberhasilan dan kegagaln mengajar, serta kemajuan dan kesulitan belajar siswa
2)
Agar guru dapat memilih dan menentukan
program, evaluasi, dan strategi belajar mengajar, serta pengaturan lingkungan
belajar.
3)
Agar guru dapat melakukan diagnosa,
melaksanakan remedial teaching, dan memberikan tindak lanjut pelajaran
3. Ruang Lingkup Asesmen
Dengan
memperhatikan tujuan asesmen sebagaimana diuraikan diatas, maka raung lingkup
asesmen dapat dikelompokan sebagai berikut:
a.
Ruang
lingkup asesmen yang di berikan sebelum anak mengikuti pelajaran.
1)
Kemampuan
menolong diri, meliputi: makan-minum, berpakain dan
merias diri, menjaga kebersihan (merawat) diri, keselamatan diri, dan orientasi
lingkungan.
2)
Kemampuan
psikomotor, meliputi: gerak motorik kasar-halus,
membangun bentuk, melipat, menggunting, menggambar, menempel, dan sebagainya.
3)
Perkembangan
sosial emosional, meliputi: bereaksi terhadap rangsangan
dari luar, menyesuaikan diri pada situasi, bermain bersama, partisipasi dalam
kegiatan, melaksanakan perintah, sikap percaya diri, dan sebagainnya.
4)
Perkembangan
bahasa, meliputi: bicara, pembendaharaan kata, menulis,
menggambar dan sebagainya.
5)
perkembangan
kognitif, meliputi: pengertian tentang ukuran, jumlah, bentuk,
inisiatif, melaksanakan perintah, orientasi ruang san sebagainnya.
b.
Ruang lingkup asesmen pada saat anak telah
belajar di kelas
Setelah
anak tunagrahita mengikuti pelajaran, ruang lingkup asesmen meliputi penilaian
untuk menentukan apa yang harus di ajarkan kepada siswa secara individu, dan
penilaian untuk menentukan cara guru dalam mengajar siswa untuk mencapai
kemajuan yang optimal.
4.
Metode
asesmen
Metode atau cara yang dapat digunaakn dalam melaksanakan
asesmen antara lain:
a. Observasi, pengamatan
yang dilakukan terhadap cara belajar siswa, tingkah laku yang muncul pada saat
siswa belajar, dan lain-lain.
b. Tes atau
evaluasi hasil belajar, diperoleh
dengan cara memberikan tes pada setiap bidang pelajaran.
c. Wawancara, dilakukan
terhadap orang tua, atau keluarga, dan siswa.
Sedangkan alat yang digunakan untuk mengolah
data yang di peroleh melalui metode diatas adalah:
a. Checklist, yaitu
memberikan tanda pada bagian-bagian yang telah ditentukan pada pedoman sesuai
dengan kemampuan anak.
b. Skala nilai, yaitu
bentuk penilaian yang mengarah pada kemampuan atau prestasi belajar siswa.
Adapaun bentuk pelaporan hasil
asesmen dapat berupa
a. Grafik, yaitu
menggambarkan posisi setiap siswa dalam tiap-tiap bidang pengajaran
b. Data kualitatif, yaitu
deskripsi singkat tentang kemampuan siswa dalam tiap-tiap bidang pengajaran.
c. Data kuantitatif, yaitu
data berupa angka. Supaya tidak menyesatkan, khusus bagi anak tunagrahita data
kuantitatif ini hendaknya selalu diiringi dengan data kualitatif
5.
Pelaksanaan
Asesmen
Pembahasan
berikut in lebih diarahkan kepada pelaksanaan asesmen setelah anak tunagrahita berada
di dalam kelas ( setelah anak belajar). Sebagaimana telah dijelaskan di atas
mengenai ruang lingkup, asesmen menentukan apa yang akan diajarkan kepada siswa
secara individu, dan bagaimana cara guru mengajar anak sehingga memperoleh
kemajuan yang optimal.
a.
Asesmen untuk menentukan apa yang harus
di ajarkan kepada siswa secara individu
Pada hakekatnya guru mempunyai tugas untuk
membantu individu agar dapat belajar secara baik dan memperoleh hasil yang
optimal (sesuai dengan kemampuannya). Oleh karena itu, dalam merencanakan
program pengajaran guru hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan yang
dimiliki anak baik yang bersifat inter individual maupun intra indvidual. Hal
ini sangat penting terutama bagi anak tunagrahita, yang sifat perbedaan
individual sangat nampak.
Untuk menentukan apa yang harus di ajarkan kepada
siswa secara individu, ada beberapa langkah/urutan yang harus di perhatikan.
Marcer & Marcer
(1993 : 38) menyaran langkah sebagai berikut
1. Determine
scope and sequence of skill to be taught.
2. Decide
what behavior to assess.
3. Select
an evaluation activity.
4. Administer
the evaluation service.
5. Record
the student’s performance.
6. Determine
specific short and long range instructional objectives.
Pelaksanaan
langkah/urutan kegiatan tersebut dapat dijelaskan dalam uraian berikut ini.
Pertama,
menentukan
scope (bidang) dan urutan keterampilan yang akan diajarkan. Untuk melaksanakan
hal ini dengan efektif, maka guru harus memahami tingkatan kemampuan siswa
dalam bidang-bidang pengajaran tertentu. Hal ini perlu dilakukan mengingat
kemampuan antara siswa yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Guru
biasanya dapat mengetahui dengan jelas keterampilan-keterampilan yang telah
dikuasai oleh siswa dan keterampilan yang perlu dikuasainya. Melalui analisis
tugas, biasanya guru dapat mengidentifikasikan keterampilan siswa sampai kepada
bagian-bagian yang terkecil.
Kedua,
memilih
tingkah laku yang akan dinilai. Penilaian tingkah laku dimulai dari tingkat
yang paling global sampai pada tingkay yang paling spesifik. Tingkah laku
global yaitu penggradasian materi kurikulum yang melibatkan tingkah laku siswa
dalam rentang keterampilan yang luas. Misalnya dalam bidang membaca meliputi:
keterampilan mengenal huruf dan kata, pemahaman kata, dan mungkin pemahaman
wacana. Sedangkan tingkah laku yang spesifik mengacu pada penentuan secara
langsung tujuan pengajaran, misalnya: siswa perlu belajar bunyi vokal pendek.
Ketiga,
memilih
kegiatan evaluasi. Dalam hal ini guru perlu mempertimbangkan apakah kegiatan
itu untuk menilai rentang keterampilan atau untuk menilai keterampilan khusus.
Apabila penilaian tentang rentang keterampilan dibutuhkan maka hal itu umumnya
dilakukan tidak secara kontinyu (misalnya 2 kali dalam setahun). Akan tetapi
penilaian keterampilan khusus sebaiknya bersifat kontinyu, yang hasilnya dapat
digunakan untuk merencanakan pelajaran berikutnya.
Keempat,
pengadministrasian
alat evaluasi. Pengadministrasian alat evaluasi biasanya diperlukan untuk
penilaian awal. Kegiatan ini meliputi: identifikasi bidang masalah, pencatatan
pola-pola kesalahan, penilaian keterampilan tertentu. Setelah penilaian awal
dilaksanakan dan tujuan-tujuan pengajaran ditentukan, maka selanjutnya guru
juga perlu menentukan prosedur untuk memonitoring kemajuan.
Kelima,
pencatatan
penampilan siswa. Ada dua jenis penampilan siswa yang harus dicatat oleh guru,
yaitu penampilan pada pekerjaan sehari-hari yang biasanya dicatat dengan
aktivitas buatan guru; dan penguasaan keterampilan secara keseluruhan yang
biasanya dicatat dalam bagan-bagan atau format kemajuan setiap individu yang
telah disediakan untuk keperluannya tersebut.
Keenam,
penentuan
tujuan pengajaran khusus jangka pendek dan jangka panjang. Tujuan yang baik
adalah tujuan yang dapat mengamati tingkah laku yang terjadi dan menggambarkan
kriteria penilaian yang berhasil. Contoh: tujuan jangka pendek, memberi materi
berupa huruf-huruf konsonan seperti: b,
c, d, f, g, dan seterusnya, siswa jangka panjang, memberikan materi berupa
rangkaian huruf vokal dan konsonan,
siswa dapat menyebutkan 90% fonem dengan benar. Dalam hal ini yang penting
adalah bahwa tujuan jangka pendek hendaknya langsung memeberukan kontribusi
terhadap pencapaian tujuan jangka panjang.
b. Asesmen
untuk menentukan bagaimana cara guru mengajar siswa untuk mencapai kemajuan
yang optimal
Kegiatan yang biasanya dilakukan untuk menentukan cara
pengajaran dalah mengidentifikasi bidang-bidang utama yang mendasari penilaian.
Bidang-bidang tersebut mencakup faktor harapan, peristiwa stimulus, faktor
respon, dan peristiwa berikutnya.
1)
Faktor harapan, mengacu pada orientasi
individu terhadap situasi belajar. Berbagai harapan yang dapat mempengaruhi
hasil belajar siswa dan tingkah lakunya adalah: harapan siswa, harapan guru,
harapan teman sebaya, dan harapan orang tua.
a)
Harapan
siswa. Dalam hal ini guru hendaknya mencari dan memiliki
informasi tentang berbagai harapn siswa dalam belajar. Informasi penting yang
harus diketahui guru adalah apakah siswa menunjukan harapan negatif? Kepada
siapa dan untuk apa reaksi negatif itu ditujukan? Apa alasan dinyatakannya
reaksi negatif tersebut? Informasi tersebut sangat bermanfaat dalam merencanakan
pengajaran. Sebagai contoh jika siswa tidak menyenangi pelajaran menyanyi
karena malu menyanyi di depan teman-temannya, maka guru mungkin menyediakan
situasi menyanyi satu-persatru secara individu atau berdua di temani seorang
temannya.
b)
Harapan
guru. Dalam hal ini guru harus mampu mengembangkan
persepsi-persepsi siswa untuk dijadikan umpan balik dalam menciptakan
harapan-harapan siswa. Jika guru berharap dan menerima lebih sedikit dari apa
yang sebenarnya dapat dilakukan siswa, maka harapan ini mungkin dapat
menghambat kemajuan belajar dan perkembangan sosial siswa.
c)
Harapan
teman sebaya. Melalui interaksi setiap hari antar
teman sekelas, siswa belajar untuk memandang diri mereka sendiri. Penerimaan
teman sebaya akan membantu anak memperoleh rasa percaya diri dan keyakinan yang
dapat membuat penampilan akademiknya lebih baik, penolakan teman sebaya dapat
mengakibatkan perasaan cemas dan ragu pada kemempuan dirinya. Archer &
Aegar (Marcer & Marcer, 1993 : 50) menyatakan bahwa: “The teacher must be aware of peer values, specially those relating to
academic achievment adan social behavior”. Maksudnya adalah bahwa guru
harus waspada terhadap nilai-nilai teman sebaya anak khususnya yang berkaitan
dengan prestasi akademik dan tingkah laku sosial.
d)
Harapan
orang tua. Orang tua memiliki peran dan pengaruh yang sangat
penting terhadap perkembangan anak, termasuk didalamnya perkembangan akademik
dan sosial. Sikap dan perlakuan orang tua banyak menentukan keberhasilan siswa
dalam belajar. Tuntutan orang tua yang terlalu tinggi akan menjadi beban bagi
anak dan dapat menimbulkan sikap putus
asa, rendah diri, dan sebagainya. Sebaliknya tuntutan yang terlalu rendah juga
akan membuat anak tidak termotivasi untuk berprestasi. Mengenai hal ini, Marcer
& Marcer (1993 : 50) mengemukakan bahwa jika orang tua menghargai dan
memberikan penguatan terhadap hasil belajar siswa, maka siswa cenderung untuk
termotivasi karena meraka mengerjakan pekerjaan rumah dan mendapatkan nilai
yang baik di sekolah. Dorongan orang tua seringkali menjadi faktor penentu
dalam mempertahankan motivasi dan prestasi siswa dalam belajar.
2)
Peristiwa stimulus, termasuk didalamnya
adalah perssiapan materi, metode pengajaran, dan latar ruang kelas yang
menimbulkan respon siswa. Guru hendaknya memiliki kemampuan untuk menciptakan
suasana yang dapat merangsang siswa untuk belajar lebih baik., misalnya apa
yang disenangi dan tidak disenangi oleh siswa. Informasi ini dapat diperoleh
guru baik melalui observasi langsung maupun tidak langsung.
3)
Faktor respon. Tugas yang diberikan guru
biasanya mendorong siswa untuk membuat respon gerak atau verbal, atau keduanya.
Memilih jenis respon untuk melakukan kegiatan pengajaran dapat menjadi sangat
penting bagi siswa. Beberapa siswa dapat berperan lebih baik bila responnya
melibatkan aspek motorik secara meluas (misalnya: menulis angka, menekan
tombol, menghubungkan titik-titik, dan sebagainya); yang laii lebih baik bila
melibatkan fungsi-fungsi respon verbal. Bila ada siswa yang menulis angka
dengan lamban atau bicara dengan cepat tanpa berfikir, maka kecendrungan respon
ini perlu dipertimbangkan dalam merencanakan pengajaran.
4)
Peristiwa Berikutnya. Banyak bentuk
situasi posotif yang dapat dilakukan guru sebagai penguatan yang dapat
mempengaryhi tingkah laku siswa. Dalam hal ini guru mempunyai berbagai cara
untuk dapat menemukan apa yang dapat dijadikan penguatan bagi siswa. Hal
penting yang harus diingat adalah bahwa dalam memberikan penguatan, guru harus
mempertimbangkan waktu, jumlah, serta rasio penguatan tersebut. Sebagai contoh:
ada siswa yang membutuhkan penguatan segera untuk mempertahankan tingkah
lakunya, sedangkan siswa yang lain dapat mentolelir penundaan.
Faktor-faktor harapan,
peristiwa-peristiwa stimulus, jenis-jenis respon, dan peristiwa yang terjadi
berikutnya harus dipertimbangkan dalam hubungannya satu sama lain. Keempat
faktor tersebut sangat penting untuk dipertimbangkan secara bersamaan untuk
membuat strategi pengajaran yang memberikan fasilitas belajar terbaik.
Prof.Drs.H.Moh.Amin,Dipl.H.P(1995).Ortopedagogik Anak Tunagrahita.Bandung
Prof.Drs.H.Moh.Amin,Dipl.H.P(1995).Ortopedagogik Anak Tunagrahita.Bandung
Pembelajaran bagi Tunagrahita
STRATEGI PEMBELAJARAN
Strategi
pembelajaran secara umum dapat diartikan sebagai metode atau teknik
meenyampaikan materi pelajaran kepada siswa agar tujuan belajar tercapai.
Arief S. Sadiman (1984:28)
menjabarkan , “Strategi pembelajaran dalam arti luas dapat mencakup metode ,
pendekatan , pemilihan sumber, dan media , pengelompokan siswa dan penilaian
keberhasilannya”. Sehingga pada pengertian sebelumnya dapat ditambahkan bahwa
strategi pembelajaran adalah juga pendekatan umum dan rangkaian tindakan yang
akan diambil untuk memilih metode pembelajaran yang sesuai. Jadi strategi ini
merupakan kaidah-kaidah preskriptif untuk merancang peristiwa – peristiwa
pembelajaran yang dapat menciptakan pengalaman belajar yang diperlukan untuk
mencapai berbagai tujuan pembelajaran khusus yang telah ditetapkan. Strategi
pembelajaran yang menekankan pada partisipaso aktif siswa, misalnya akan lebih
mengutamakan penggunaan metode diskusi atau seminar atau kerja kelompok
daripada metode ceramah . Jadi strategi pembelajaran itu ternyata juga mengait
pada model dan metode pembelajaran.
MODEL – MODEL PEMBELAJARAN
Dalam
buku Models and Methods of Teaching, L. Brady (1985:11-12) membagi model
pembelajaran menjadi 5 jenis :
a1.The
Exposition Model ( Model Eksposisi) model pembelajaran yang lebih memusat pada
aktivitas guru dan penyampaian materi dengan cara menerangkan materi secara
terperinci.
b2.The
Behavioural Models (Model Perilaku) model pembelajaran yang didasarkan pada
urutan tahapan belajar yang ketat dan menggunakan penguatan (reinforcement)
untuk mendapatkan tingkah laku yang dapat diamati. Model ini lebih luas dari
model sebelumnya.
c3.The
Cognitive Developmental Model ( Model Perkembangan Kognitif ) suatu model yang
dalam pelaksanaannya guru memilih tugas – tugas pelajaran yang sesuai dengan
tingkat perkembangan anak dan menjelajahi pemikiran anak dalam hubungannya
dengan tugas-tugas itu. Seperti halnya model perilaku, model ini menekankan
pada langkah-langkah rencana pembelajaran yang sederhana, tetapi sasarannya
adalah alam pemikiran anak yang didasari oleh perilaku dan tingkat perkembangan
anak.
d4.The
Interaction Model (Model Interaksi) suatu model yang mendekankan terjadinya
pembelajaran sebagai suatu hasil interaksi anak dengan orang lain dan anak
dengan masyarakat . Jadi tekanannya pada hubungan antar individu.
e5.The
Transaction Model (Model Transaksi) suatu model pembelajaran yang berpusat pada
murid (pupil centeed) yang mencakup suatu program guru yang lebih mengutamakan
interaksi murid sendiri dengan lingkungan (fisik atau benda dan manusia) dan
perubahan sebagai suatu hasil dari pengalaman tersebut. Karena model transaksi
ini memfokuskan pada interaksi sosial, maka jelas model ini adalah tindakan
atau “transaksi murid”.
MENENTUKAN STRATEGI PEMBELAJARAN
Strategi
pembelajaran sebaiknya diperhatikan empat komponen sebagai dikemukakan oleh
Romiszowski A.J (1984:16) yakni :
1. Tujuan
pembelajaran
2. Karakteristik
siswa
3. Sumber
dan fasilitas yang tersedia
4. Karakteristik
strategi pembelajaran itu sendiri
Strategi pembelajaran yang
digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran meningkatkan keterampilan motorik
dan persepsi akan berbeda dengan strategi pembelajaran yang digunakan untuk
mencapai tujuan pembelajaran , memberikan kesempatan kepada siswa, untuk
memiliki kemampuan berfikir matematis. Demikian
pula murid yang memiliki kemampuan intelektual rendah seperti halnya anak
Tunagrahita , strategi pembelajaran yang digunakan akan berbeda dengan murid
yang cerdas dan kreatif. Yang perlu dipertimbangkan adalah karakteristik ini
tidak hanya akan berpengaruh pada terhadap efektivitas dan efisiensi pencapaian
tujuan belajar yang dapat teramati dan terukur, tetapi juga berpengaruh
terhadap kepribadian siswa. Jadi strategi pembelajaran yang menekankan pada
interaksi kooperatif antar siswa, misalnya akan memiliki pengaruh yang berbeda
terhadap perkembangan kepribadian anak dengan strategi pembelajaran yang
kompetitif dan individualistik.
STRATEGI PEMBELAJARAN DALAM
PENDIDIKAN ANAK TUNAGRAHITA
Pada
prinsipnya tidak jauh berbeda penerapannya dengan pendidikan pada umumnya. Pada
hakekatnya strategi pembelajaran tersebut harus memperhatikan karakteristik
murid, tujuan belajar, dan ketersediaan sumber.
Pada
anak tunagrahita ringan dan sedang mungkin lebih efektif menggunakan strategi
pembelajaran yang menekankan latihan. Yang tidak terlalu banyak menuntut
kemampuan berfikir yang kompleks. Meskipun demikian strategi yang menekankan
pada latihan yang diulang – ulang itu memang kurang sesuai dan sangat
membosankan bagi anak – anak yang memiliki kemampuan intelektual tinggi.
Strategi
pembelajaran bagi anak tunagrahita ringan yang belajar bersama anak normal
disekolah umum akan berbeda dengan strategi pembelajaran bagi mereka yang
belajar dalam satu kelompok anak tunagrahita di Sekolah Luar Biasa anak
tunagrahita (SLB-C).
Ada 3 jenis strategi pembelajaran
yang menekankan pada ada tidaknya interaksi antar siswa, yakni :
a1.Strategi
Pembelajaran Kooperatif
Penerapan strategi pembelajaran kooperatif paling
efektif pada kelompok murid yang memiliki kemampuan heterogen. Dalam pendidikan
yang mengintegrasikan anak tunagrahita belajar bersama anak normal, misalnya.
Strategi pembelajaran ini akan lebih relevan dengan kebutuhan anak tunagrahita
yang kecepatan belajarnya tertinggal dengan anak normal. Strategi pembelajaran
ini bertitik tolak dari semangat kerja saja, dimana mereka yang lebih pandai
dapat membantu temannya yang masih mengalami kesulitan dalam suasana keakraban
dan kekeluargaan. Strategi ini sangat diperlukan dalam pendidikan integratif
antara anak tunagrahita ringan dengan anak normal, karena strategi ini banyak
memiliki keunggulan bila dibandingkan dengan strategi pembelajaran kompetitif
maupun individualistik. Keunggulan tersebut meliputi :
1.
Membantu meningkatkan prestasi
2.
Merangsang peningkatan daya ingat
3.
Dapat menumbuhkan prestasi belajar
4.
Meningkatkan sosialisasi antara anak tunagrahita
dan anak normal
5.
Menumbuhkan penghargaan dn sikap positif pada
anak normal terhadap prestasi belajar anak tunagrahita.
6.
Meningkatkan harga diri anak tunagrahita, dan
7.
Memberi kesempatan pada anak tunagrahita untuk mengembangkan
potensinya seoptimal munhgkin.
Penggunaan
strategi pembelajaran kooperatif menurut peran guru yang berbeda dari strategi
pembelajaran yang lain. Guru harus mampu merumuskan tujuan pembelajaran, baik
tujuan untuk untuk meningkatkan kemampuan akademik akademik maupun keterampilan
bekerja sama. Kemampuan guru dalam mengatur tempat duduk anak, penempatan anak
dalam kelompok , dan besarnya anggota anggota kelompok belajarnya juga ikut
menunjang kelancaran pelaksanaan strategi kooperatif. Selain itu efisiensi dan
efektivitas penerapan strategi pembelajaran kooperatif dalam pendidikan
integrasi anak tunagrahita ringan dengan anak normal akan tercapai.
Johnson, D.W
& Johnson, R.T (1984:84)
“Guru mampu merancang bahan pelajaran dan peran tiap anak yang dapat
menunjang saling ketergantungan positif antara anak tunagrahita ringan dan anak
normal dalam kelompok belajar. Di samping itu guru juga mampu memberi bantuan
kepaada anak tunagrahita ringan dalam menyelesaikan tugas serta mengevaluasi
kualitas dan kuantitas belajarnya”.
b2. Strategi
Pembelajaran Kompetitif
Pada hakikatnya setiap individu memiliki kebutuhan
untuk mencapai prestasi dan mendapat penghargaan. Dengan adanya kebutuhan
tersebut, maka tumbuhlah motivasi belajar anak untuk meraihnya. Salah satu
upaya yang bisa dilakukan oleh guru adalah dengan menggunakan strategi
pembelajaran kompetitif.
Prinsip-prinsip
yang harus diperhatikan oleh guru dalam menggunakan strategi pembelajaran
kompetitif adalah :
1.
Kompetisi diadakan untuk memvariasi kegiatan belajar
supaya tidak monoton dan pasif.
2.
Kompetisi harus dilakukan antar individu atau
antar kelompok yang berkemampuan seimbang.
Strategi
pembelajaran kompetitif sebenarnya terlalu sulit untuk diterapkan dalam
pengajaran anak tunagrahita ringan karena adanya keterbatasan dalam kemampuan
intelektual, dan mereka dalam belajar memerlukan waktu yang lebih lama daripada
anak lain pada umumnya serta memiliki karakteristik yang sangat individual.
Dengan kata lain, hambatan hambatan yang ada pada anak tunagrahita ringan
menyebabkan tidak dapat diwujudkannya sesuatu kompetisi antar individu atau
antar kelompok yang berkemampuan seimbang atau sama.
c3.Strategi
Pembelajaran Individual atau Individualisasi Pengajaran
·
Pengajaran Individual adalah pengajaran yang
diberikan kepada murid – murid seorang demi seorang atau secara terpisah.
· Individualisasi pengajaran adalah pengajaran
yang diberikan oleh guru kepada masing-masing anak, meskipun mereka belajar
bersama dan berada bersama-sama di dalam satu kelas atau kelompok. Jadi
individualisasi pengajaran ialah suatu proses mengembangkan dan memelihara
individualitas, caranya adalah dengan mengatur kelas sedemikian rupa sehingga
memberikan pengalaman belajar yang efektif adan efisien kepada setiap anggota
kelas.
Komponen yang
penting bagi individualisasi pegajaran adalah : pengelompokan murid-murid
menjadi beberapa kelompok belajar . Dengan pengelompokan ini murid dapat
belajar berinteraksi, bekerja sama, dan bekerja selaku anggota kelompok serta
mengalami keterikatan pada berbagai kelompok lainnya dan tidak hanya menjadi
anggota tetap suatu kelompok.
Pendidikan anak
tunagrahita pada umumnya memerlukan sistem pengajaran individual di smaping
pengajaran klasikal. Yang penting bukan individual atau klasikalnya, melainkan
individualisasi pengajaran, artinya dalam pelaksanaannya boleh individual ,
kelompok dan boleh klasikal.
Individualisasi
pengajaran nampak dari hal hal sebagai berikut :
1.
Kegiatan kegiatan yang beranekaragam dan
beranekawarna alat yang menciptakan lingkungan belajar.
2.
Sesuainya aktivitas – aktivitas yang dilakukan
dengan keadaan anak.
3.
Ikut tidaknya anak didik menetapkan apa yang
dipelajarinya.
4.
Interaksi guru dan murid berdasarkan proses
belajar.
Barang – barang yang disimpa
Ruangan belajar juga perlu sekali dirancang dengan
nsebaik-baiknya. Setiap bagian ruang hendaknya membuka kemungkinan bagi anak
untuk mendapatkan pengalaman dan memberikan kesempatan melakukan penemuan.
Dalam menilai baik tidaknya pengaturan lingkungan untuk individualisasi
pengajaran, hal – hal yang patut mendapat perhatian adalah :
1.
Adakah keseimbangan antara bagian-bagian yang
harus sunyi dan gaduh dengan pekerjaannya?
2.
Tersediakah tempat untuk melakukan independent
study (belajar mandiri) dan untuk group interuction (interaksi kelompok)?
3.
Adakah tanda-tanda dan petunjuk-petunjuk lain
tentang penggunaan tiap bagian ?
4.
Apakah tempat-tempat teratur sedemikian rupa
sehingga anak mudah menjangkau atau mengambil yang diperlukan ?
5.
Adakah pengaturan tentang bagaimana mendapat
bantuan dari orang yang dibutuhkan dan bantual material ?
Salah satu
cara untuk melakukan individualisasi pengajaran ialah mengadakan pusat belajar (learning center). Dengan adanya
learning center, anak terlepas dari situasi belajar mengajar atas pilihan
sendiri. Karena itu ruangan perlu dibagi menjadi beberapa learning center guna
memungkinkan anak lebih banyak terlibat dalam kegiatan belajar mengajar.
PROGRAM PENDIDIKAN INDIVIDUAL
(PPI ATAU IEP) :
a Pengertian
Program Pendidikan Individual (PPI) merupakan terjemahan
dari Individualized Education Program
(IEP), yakni suatu program pendidikan yang disusun untuk setiap anak luar
biasa. Dapat berupa rencana jangka panjang maupun pendek. Cangkupan PPI jauh
lebih luas dibandingkan Program Individualisasi Pengajaran , karena PPI tidak
hanya mencakup kurikulum bagi siswa ,tetapi juga penempatan, lembaga-lembaga
terkait dalam pendidikan murid tersebut, serta aspek lain yang terkait.
Menurut
Hallahan dan Daniel P. (1991: 25-26) menjelaskan bahwa :
“PPI ini disiapkan untuk setiap murid luar
biasa.Programnya harus merumuskan tingkat kemampuan murid saat ini, tujuan
jangka panjang dan jangka pendek, pelayanan yang diberikan dan rencana untuk
memulai dan mengevaluasi pelayanan tersebut. Disamping itu PPI menguraikan apa
yang direncanakan guru untuk memenuhi kebutuhan murid yang berkelainan dan
perencanaan itu harus disetujui oleh orang tua atau wali murid”
Idealnya semua
murid khususnya yang berkelainan fisik dan/ mental dilayani dengan PPI karena
pada dasarnya setiap murid luar biasa mempunyai kebutuhan pendidikan yang
berbeda. Namun pada kenyataannya PPI terutama diperuntukkan bagi murid berkelainan pada tingkat ringan sedang
dan parah.
Hallahan
( 1991:30) menjelaskan dengan lebih terinci bahwa PPI merupakan :
“Perjanjian antara orang tua dan sekolah
yang berisi pelayanan yang diberikan kepada murid dengan memperlihatkan
ketentuan-ketentuan berikut ini, yakni :
1.
Tingkat
kemampuan akademik murid pada saat sekarang
2.
Tujuan
tahunan untuk tiap murid
3.
Kaitan
antara tujuan jangka pendek dan jangka panjang
4.
Hubungan
antara pendidikan khusus dan pelayanan yang diberikan serta memberikan
kesempatan kepada tiap anak yang berhasil untuk ikut serta dalam program pendidikan
umum
5.
Rencana
untuk memulai pelayanan dan mengantisipasi lamanya pelayanan , dan
6.
Prosedur
evaluasi untuk menentukan keberhasilan atau kegagalan program”.
KEGUNAAN PPI ,
adalah untukmenjamin bahwa tiap murid luar biasa di SLB maupun di sekolah umum
memiliki suatu program yang diindividualisasikan untuk mempertemukan kebutuhan
– kebutuhan khas yang dimiliki murid dan mengkomunikasikan prohram tersebut
kepada orang orang yang berkepentingan
dalam bentuk suatu program yang sistematis. Program ini juga dapat membantu
para guru untuk mengadopsikan program umum dan atau program khusus bagi anak
luar biasa yang bertolak atas kekuatan, kelemahan, dan minat anak.
b. Asumsi
Dasar Pengelolaan PPI atau IEP
Snell (1986:11)
mengemukakan bahwa pengembangan PPI untuk anak tunagrahita sedang dan ringan
dilandasi oleh asumsi dasar berikut :
1.
Proses balajar anak tunagrahita yang berlangsung
lamban sehingga memerlukan waktu yang lama dalam belajar.
2.
Sekolah bertanggung jawab untuk mengajarkan
keterampilan fungsional yang diperlukan untuk memaksimalkan kemandirian anak.
3.
Guna menghasilkan dampak pengajaran yang
maksimal pada diri anak, perlu selalu berinteraksi dengan orang tua anak.
4.
Prinsip modifikasi perilaku dapat diterapkan
secara umum bagi anak tunagrahita berat.
5.
Acuan normal dan alat alat penilaian yang baku
sangat sedikit kesulitannya untuk anak tunagrahita berat.
6.
Validasi tujuan, prosedur, dan dampak pengajaran
bagi anak tunagrahita perlu dilakukan melalui medium social.
c. Pengembangan
PPI atau IEP
Proses
pengembangan PPI cukup kompleks, di Amerika orang tua siswa dilibatkan sejak
awal dalam pengembangan PPI, kemudian pertemuan anggota komite.
Cakupan PPI sangat luas dan
kurikulum hanya merupakan satu porsi dari PPI, karena kurikulum menjaddi fokus
utama pembaharuan ini.
Pengembangan PPI
mempersyaratkan :
1.
Mendeskripsikan kemampuan siswa dalam berbagai
bidang
2.
Menetapkan tujuan tahapan dan tujuan khusus yang
akan dicapai siswa.
3.
Menentukan cara untuk mengukur kemajuan yang
dibuat siswa
4.
Menentukan ranah kurikulum yang akan menjadi
tekanan
5.
Menetapkan strategi untuk mengajarkan
ketrampilan sesuai dengan ranah kurikulum yang ditekankan.
d. Format
PPI
Dengan berpegang pada hakikat dan rambu rambu pengembangan PPI, para
guru diharapkan dapat mengembangkan satu model program pengajaran PPI yang
praktis.
Langkah pertama yang perlu ditempuh adalah mengembangkan yang kira-kira
sesuai, kemudian baru mengembangkan komponennya. Namun sekali lagi perlu
diingat bahwa format bukanlah suatu hal yang mengikat, tetapi satu kerangka
acuan yang memudahkan guru menuangkan gagasan.
Sebagai acuan perlu diingat bahwa sebuah PPI antara lain mengaandung
komponen identitas siswa, tingkat kemampuan nya saat ini, tujuan jangka
panjang, tujuan jangka pendek, ranah kurikulum yang menjadi penekanan utama,
strategi pembelajarannya serta alat untuk mengukur kemampuan yang dibuat.
Komponen komponen lainnya dapat ditambahkan sesuai dengan program yang dibuat.
Prof.Drs.H.Moh.Amin,Dipl.H.P(1995).Ortopedagogik Anak Tunagrahita.Bandung





Ari Sandra Prasetyana

